Resensi: Negri van Oranje

Judul buku                          : Negeri van Oranje

Pengarang                          : Wahyudiningrat, Adept Widiarsa, Nisa Riyadi, & Rizki Pandu Permana.

Penerbit                              : Bentang Pustaka Populer

Tmpat Terbit                      : Jakarta

Tahun Terbit                      : 2009

Tebal                                     : 478 + x

Keseluruhan cerita mengambil seting Belanda sebagai tempat berjalannya cerita, negeri dimana tempat kelima mahasiswa ini menuntut ilmu. Mengisahkan perjalanan hidup lima orang mahasiswa Indonesia di negeri orang. Novel ini memperlihatkan sisi humanis dari setiap mahasiswa, ternyata tingkat intelektual tidak selalu berbanding lurus dengan akhlak atau moral seseorang…hehehe..:)

Mengisahkan mengenai persahabatan yang terjalin diantara ke lima mahasiswa rantau yang ada di Belanda. Kisah persahabatan mereka terjalin secara tidak sengaja ketika mereka berlima terdampar di Stasiun Amersfort  dikala musim dingin melanda Belanda. Banjar, Wicak, Daus, Lintang, dan Geri kelima makhluk ajaib ini dipertemukan oleh candu mereka kepada rokok, kecuali Lintang tentunya seorang perempuan tipe gadis lugu dan kekanakan yang sangat jarang kita temui di kehidupan nyata, hanya keberuntungan lah yang dapat mempertemukan kita dengan gadis seperti Lintang.

Banjar bernama asli Iskandar putera seorang pengusaha di Kalimantan, di Belanda dia kuliah di Rotterdam. Wicak yang bernama lengkap Wicak Adi Gumelar pribumi asli asal Banten merupakan seorang aktifis LSM yang “terpaksa” melanjutkan kuliah demi keselamatan dirinya yang dengan kurang ajarnya berani menantang mafia pemalakan liar di Indonesia. Dia memilih Universiteit Wageningen, universitas yang katanya menjadi inspirasi pendirian ITB di Indonesia. Firdaus Gojali Muthoyib bin Satiri anak Betawi asli lulusan Fakultas Hukum UI mengambil Human Rights Law di Utrecht. Ananda Lintang Persada, nama yang indah milik seorang gadis lugu yang kekanak-kanakan, dia memutuskan mengambil European Studies di Leiden. Terakhir Garibaldi Utama Anugraha Atmadja atau biasa disapa Geri, merupakan anak seorang pengusaha asal Bandung. Orangtuanya yang kaya telah menyekolahkan Geri ke Belanda semenjak zaman S1 dahulu. Oleh kawan-kawan cowoknya di Aagaban dia dijuluki si Lucky Bastard.

Kelima mahasiswa malang ini memberi nama geng mereka dengan nama Aagaban? Nama yang aneh bukan? Bukaan,..hehehe

Aagaban merupakan akronim dari Aliansi Amersfort GAra-gara BAdai di Nedherlands. Nama yang sempat dicela secara halus oleh kawan-kawannya di ciptakan oleh si lugu Lintang. Lintang merupakan primadona dalam kelompok aneh ini. Keberadaan Lintang menimbulkan dinamika tersendiri, masing-masing teman laki-lakinya saling mengeluarkan jurus untuk mendapatkan Lintang. Kecuali Geri, yang sempat di taksir Lintang, kenapa dengan Geri? Hehehe,…silahkan baca saja novelnya, yang jelas Geri telah terkontaminasi dengan virus westernisasi, tanpa berniat menghakimi, para penulis dalam buku inipun berusaha membuat agar Geri dapat diterima layaknya manusia normal…

Kelima makhluk ajaib ini tinggal di kota yang berlainan di Belanda, kecuali Lintang dan Geri yang tinggal di kota yang sama. Dalam berkomunikasi mereka lebih mengandalkan menggunakan media internet (YM) sebagai sarana favorit dalam curhat-curhatan atau bertukar berita. Kadang-kadang mereka juga saling berbuat janji bertemu, saling bercerita, dan melepas beban berat yang mereka tanggung selama berada di negeri orang. Puncaknya ialah perpisahan yang mereka lakukan dengan Ranah Eropa yakni mengunjungi beberapa negara Eropa sebagai Bagpacker, atau kalau boleh diterjemahkan secara bebas ke dalam bahasa Melayu menjadi petualang atau penjelajah.

Para penulis telah berhasil melukiskan bagaimana suasana persahabatan yang dijalani oleh lima sekawan ini. Pasang surut, pertikaian, air mata, keluguan, kekocakan, kegilaan, kebodohan, dan berbagai perasaan lainnya berhasil dihidupkan oleh penulis. Sehingga ketika membaca novel ini kita merasa pernah mengalami semua romatika persahabatan yang dialami oleh kelima makhluk ajaib ini.

Selain itu, buku ini juga dilengkapi berbagai tips mengenai bagaimana tinggal di luar negeri, sehingga terasa seperti semacam panduan, dan malangnya kita menjadi merasa ingin segera cabut ke luar negeri, mencoba semua tips yang disarankan. Akhirnya, ketika kita selesai membaca novel ini, kita menjadi menyesal membacanya. Lho kok? Ya.. karena para penulis telah berhasil dengan gemilang mengembalikan aura persahabatan yang pernah hilang kepada kita maka ketika novel ini usai dengan begitu kita juga merasakan kehilangan. Kehilangan persahabatan yang pernah dengan erat terjalin, pertemuan menandakan akan adanya perpisahan di masa depan kelak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s